Sunday, August 20, 2017

PERJALANAN CERITA MISTERI


 PETUALANGAN KU DI TUBAN JAWA TIMUR DI TEMPAT MAKAM  TUNDUNG MUSUH DAN MAKAM NYA ASMORO KONDI

     Perjalanan berpetualang ke tempat yang penuh dengan misteri2 ini aku paling suka dan termasuk hoby ku, dari arah barat pulau jawa saya menuju ke timur yaitu di kota Tuban........lalu saya melangkahkan kaki  menyusuri jalan ke arah timur menuju ke Desa Blimbing Kabupaten Lamonngan, Jawa Timur.....ini aku punya misi mau bekerja sebagai foto amatier, tapi dengan berjalan kaki dari Tuban saya terhenti melihat makam menjorok mau ke tepian pantai dan saya sangat tertarik sekali hingga saya menjumpai salah se orang juru kunci dan memohon untuk bermalam di makam, lalu saya di perbolehkan, dan cerita punya cerita saya sangat tertarik sekali................
Di Desa Tasikmadu, tepatnya di dukuh Klamber terdapat makam  keramat, konon makam ini adalah makam Raden Gagar manik, putra kedua Sultan Mataram, Sunan Seda Krapyak atau juga dikenal sebagai Pangeran Tundung mungsuh........Lokasi makam ini tepatnya berada di kawasan pantai utara,  Desa Tasikmadu, keberadaan makam ini memang sangat lain dengan makam-makam pada umumnya, posisi makam ini menjorok ke laut........Jika melakukan perjalanan melewati jalan dari Tuban ke arah Blimbing, maka di sebalah kiri jalan terdapat pohon yang rindang sedikit menjorok ke laut, maka itulah makam Pangeran Tundung mungsuh........Sejarah lisan, menceritakan bahwa Raden Gagar manik memiliki sahabat yang bernama Empu Supa, seorang pembuat keris-keris sakti yang berkat keahliannya itu ia sangat terkenal sampai di Kerajaan Mataram.Empu Supa dipercaya membuat keris Sengkelat yang dianggap pusaka bertuah............... Raden Gagar manik disebut sebagai Pangeran Tundung mungsuh karena kesaktiannya untuk meng- embalikan musuh dari arah utara Jawa yang akan menyerang Kabupaten Tuban.......dan di makam ini ada beberapa juru kunci serta fersi cerita pun ber macam2 fersi, jadi kebenaran nya ter kadang mirip terkadang tidak Cuma saya akan tulis semua cerita menurut keyakinan mereka masing2 yang di atas kilasan cerita dan di bawah saya mengoreksi cerita2 mereka hingga bertemu titik temu......
Dan aneh nya di Masyarakat Tuban belum begitu mengenal Makam Tundung Musuh ini
Hampir tak ada seorangpun dari warga Kabupaten Tuban yang tidak mengetahui Makam Pangeran Gagar Manik. Bahkan makam yang lebih dikenal dengan nama Tundung Mungsuh ini telah dikenal oleh ribuan orang dari luar Kabupaten Tuban. Konon cerita, makam tempat bersemayam Panglima Perang kerajaan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat yang sempat menjadi murid salah seorang Wali di Tuban ini, masih menyimpan “karomah” luar biasa besar. Bukan hanya orang-orang di sekitaran Tuban semisal Lamongan, Bojonegoro dan Rembang di daerah tempat saya tinggal sekarang, yang menziarahi makam ini Peziaran bahkan datang dari luar pulau seperti Kalimantan dan Sumatera.
Namun ketenaran nama itu sangat bertolak belakang dengan kondisi real makam yang menempati sebuah tanjung di Dusun Klamber, Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang tersebut. Air laut telah memakan sebagian besar area situs makam itu. mendatangi lokasi makam dan bermalam beberapa hari dahulu masih sangat sepi sekali.............. saya mohon izin sama sang juru kunci, dan di persilahkan menginap nya beberapa hari,  lalu me lihat2 di area makam sangat lah memperihatin kan kelihatan tidak terurus, cungkup makam.Bahkan fondasi mushala yang berada persis di sisi timur makam terlihat bengkah terhantam ombak laut. ” Sekarang ini sudah agak lumayan setelah puluhan bis beton pemberian seorang peziarah di pasang sebagai penghalang ombak. Beberapa bulan lalu sepertiga fondasi mushala sudah menggantung,” terang Mbah Mochtar (56), salah seorang Juru Kunci makam itu.
Menurut Mbah Mokhtar, separoh lebih dari makam yang ada di tempat itu telah hilang terseret air laut pasang. Bahkan makam Pangeran Gagar Manik yang diyakini sebagai tokoh utama dan paling berpengaruh di situs itu, kata Mbah Mokhtar, saat ini sudah berada di tengah laut, 250 meter dari lokasi cungkup saat ini. Untuk menjaga agar situs Tundung Mungsuh masih lestari, terpaksa dibuatkan makam dan cungkup baru. Namun tampaknya cungkup baru itu-pun sebentar lagi akan lenyap termakan gelombang laut pasang.
Di sepanjang tempat itu memang tidak terlihat adanya  tanggul penahan gelombang laut permanen. yang ada hanya berupa tumpukan batu setinggi satu meter. Itu pun kondisinya sudah porak-poranda karena tidak mampu menahan gempuran gelombang yang kadang sampai setinggi tiga meter. Mbah Mokhtar berharap Pemerintah setempat mempedulikan peninggalan sejarah tersebut, agar generasi memandang tidak kehilangan rantai sejarah bangsanya sendiri. “ Selama ini kami ya swadaya. Bis beton yang kami buat tanggul di samping mushala itu hasil dari sumbangan pengunjung yang peduli. Dari Pemerintah belum ada,” keluh Mbah Mokhtar.
Sasmito (51), juru kunci lainnya, membenarkan. Beberapa waktu lalu area sebelah barat yang agak landai sudah termakan air laut. Dibantu sejumlah warga desa setempat dan pengunjung, Sasmito dan tiga juru kunci lainnya bergotong royong mengurugnya dengan pasir, sehingga akses jalan masuk ke makam kembali bisa dilewati.
Menurut Sasmito, situs makam Tundung Mungsuh tersebut merupakan salah satu situs makam yang perlu dijaga kelestariannya karena berkait langsung dengan sejarah Kadipaten Tuban. Di tempat tersebut bersemayam salah seorang Senopati dari Mataram, Pangeran Gagar Manik,yang konon sempat menjadi murid Syaikh Ibarahim Ash-Shamarqandy atau Ibrahim Asmoro, kakek Sunan Bonang. Dinamakan Tundung Mungsuh di tempat itulah tentara Mataram yang hendak menyerbu Tuban bisa diusir. Gagar Manik, panglima pasukan penyerang tersebut konon berkhianat dan malah membela prajurit Tuban, mengingat ia pernah berguru pada Syaikh Ibrahim Ash-Shamarqandy. Ia pun kemudian memilih tempat itu sebagai tempat mukimnya hingga ajal.
Sasmito mengaku setiap harinya 30-40 orang berziarah ke situs makam tersebut. Para peziarah itu, katanya, malah kebanyakan orang dari luar Tuban. Sasmito tidak tahu persis berapa pendapatan yang diperoleh dari pengunjung. Sebab, menurut pengakuannya, kotak tempat para pengunjung memasukkan uang sebagai “amal jariyah” bukan menjadi wewenangnya. Ia sendiri mengaku bekerja sebagai salah satu juru kunci di makam tersebut tanpa upah pasti. Di makam itu ada empat juru kunci yang bertugas merawat dan membimbing para peziarah.
Juru Kunci lain, Gojali (46), mengatakan, paling banyak isi kotak amal tersebut Rp 500 ribu. Itu pun katanya, tidak bisa dipastikan setiap hari mendapat
pemasukan sebesar itu. “ Rata-rata ya Rp 150 ribu. Malah yang sering ya nggak ada isinya,  tidak ada kewajiban pengunjung mengisi kotak amal tersebut,” kata Gojali.
Dari pendapatan kotak amal tersebutlah empat juru kunci itu mengelola makam  Tundung Mungsuh. Beruntung apabila ada pengunjung yang memberi lebih lantaran merasa telah terkabulkan hajatnya. Namun para juru kunci itu mengaku lebih senang apabila sumbangan yang di berikan para peziarah berupa material untuk perbaikan situs makam........
Situs makam Tundung Mungsuh sendiri tidak tercatat sebagai salah satu situs yang perlu dilindungi oleh pihak berwenang di Pemerintahan. Gagar Manik sendiri malah jarang disebut dalam kisah-kisah legenda Kabupaten Tuban. Alasannya, tokoh Gagar Manik bukanlah figur penting dalam sejarah. Makamnya pun tidak termasuk salah satu makam yang menjadi tujuan wisata spiritual. Hanya para pengunjung yang memiliki hajat tertentu yang berziarah dan melakukan ritual di tempat tersebut. Dan celakanya, banyak diantara pengunjung yang memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan keliru, dahulu pada waktu musim permainan judi di sini banyak mereka memohon ilham supaya menang mendapatkan lotre/Nalo/Togel nya sekarang......dan juga ada para pejiarah memohon kesaktian entah tujuan mereka macam2 yang di ingin kan, celaka nya lagi mereka yang punya masalah banyak datang kemari, kepercayaan mereka agar terhindar dari hujatan musuh dan hutang piutang.......demikian lah kisah para pengunjung di makam ini macam2 ini hanya sekilas saja atas tujuan mereka masing2........lalu saya melanjutkan melangkah kan kaki kembali menuju Makam nya Asmoro Kondi tidak jauh dari tempat makam Tunjung Musuh ini dari Desa Tasik Madu ke Desa Gisik Harjo Kecamatan Palang, tidak lah jauh hanya beberapa kilo saja dengan jalan kaki sebentar saja sudah sampai............
Syekh Ibrahim Asmoroqondi atau Syekh Ibrahim as-Samarqandi yang dikenal sebagai ayahanda Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel), makamnya terletak di Desa Gesik harjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Syekh Ibrahim Asmoro qondi diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh kedua abad ke-14. Babad Tanah Jawa menyebut namanya dengan sebutan Makdum Ibrahim Asmoro atau Maulana Ibrahim Asmoro. Sebutan itu mengikuti pengucapan lidah Jawa dalam melafalkan as-Samarqandi, yang kemudian berubah menjadi Asmoro qondi. Menurut Babad Cirebon, Syekh Ibrahim Asmoro qondi adalah putera Syekh Karnen dan berasal dari negeri Tulen. Jika sumber data Babad Cirebon ini otentik, berarti Syekh Ibrahim as-Samarqandi bukan penduduk asli Samarkand, melainkan seorang migran yang orang tuanya pindah ke Samarkand, karena negeri Tulen yang di maksud menunjuk pada nama wilayah Tyulen, kepulauan kecil yang terletak di tepi timur Laut Kaspia yang masuk wilayah Kazakhstan, tepatnya dia arah barat Laut Samarkand.
Dalam sejumlah kajian historiografi Jawa, tokoh Syekh Ibrahim Asmoroqondi acapkali di samakan dengan Syekh Maulana Malik Ibrahim sehingga menimbulkan kerumitan dalam menelaah kisah hidup dan asal-usul beserta silsilah keluarganya, yang sering berujung pada penafsiran keberadaan Syekh Ibrahim Asmoro qondi sebagai tokoh sejarah. Padahal, situs makam dan gapura serta mihrab masjid yang berada dalam lindungan dinas purbakala menunjuk lokasi dan era yang beda dengan situs makam Maulana Malik Ibrahim.
Menurut Babad Ngampel denta, Syekh Ibrahim Asmoroqondi yang dikenal dengan sebutan Syekh Maulana adalah penyebar Islam di negeri Champa, tepatnya di Gunung Sukasari.Syekh Ibrahim Asmoro qondi di kisahkan berhasil mengislam kan Raja Champa dan di ambil menantu.Dari isteri puteri Raja Champa tersebut, Syekh Ibrahim Asmoro qondi memiliki putera bernama Raden Rahmat. Di dalam Babad  Majapahit dan Serat Wali songo , Syekh Ibrahim Asmoro qondi dikisahkan datang ke Champa untuk berdakwah dan berhasil mengislamkan raja serta menikahi puteri raja tersebut. Syekh Ibrahim Asmoro qondi juga dikisahkan merupakan ayah dari Raden Rahmat (Sunan Ampel)....................
Di dalam naskah Nagara kerta bumi, Syekh Ibrahim Asmoro qondi di sebut dengan nama Maulana Ibrahim Akbar yang bergelar Syekh Jati swara. Seperti dalam sumber historiografi lain, dalam naskah Nagara kerta bumi, tokoh Maulana Ibrahim Akbar di sebut sebagai ayah dari Ali Musada (Ali Murtadho) dan Ali Rahmatullah, dua bersaudara yang kelak dikenal dengan sebutan Raja Pandhita dan Sunan Ampel.
Babad Tanah Jawa , dan Babad Cirebon menuturkan bahwa sewaktu Ibrahim Asmoro datang ke Champa, Raja Champa belum memeluk Islam. Ibrahim Asmoro tinggal di Gunung Sukasari dan menyebarkan agama Islam kepada penduduk Champa.Raja Champa murka dan memerintahkan untuk membunuh Ibrahim Asmoro beserta semua orang yang sudah memeluk agama Islam. Namun, usaha raja itu gagal, karena ia keburu meninggal sebelum berhasil menumpas Ibrahim Asmoro dan orang-orang Champa yang memeluk agama Islam. Bahkan, Ibrahim Asmoro kemudian menikahi Dewi Candra wulan, puteri Raja Champa tersebut. Dari pernikahan itulah lahir Ali Murtolo (Ali Murtadho) dan Ali Rahmatullah yang kelak menjadi Raja Pandhito dan Sunan Ampel Babad Tanah Jawa, dan Babad Cirebon menuturkan bahwa sewaktu Ibrahim Asmoro datang ke Champa, Raja Champa belum memeluk Islam. Ibrahim Asmoro tinggal di Gunung Sukasari dan menyebarkan agama Islam kepada penduduk Champa.Raja Champa murka dan memerintahkan untuk membunuh Ibrahim Asmara beserta semua orang yang sudah memeluk agama Islam. Namun, usaha raja itu gagal, karena ia keburu meninggal sebelum berhasil menumpas Ibrahim Asmoro dan orang-orang Champa yang memeluk agama Islam. Bahkan, Ibrahim Asmoro kemudian menikahi Dewi Candrawulan, puteri Raja Champa tersebut.Dari pernikahan itulah lahir Ali Murtolo (Ali Murtadho) dan Ali Rahmatullah yang kelak menjadi Raja Pandhito dan Sunan Ampel.
Menurut urutan kronologi waktu, Syekh Ibrahim Asmoro qondi diperkirakan datang ke Jawa pada sekitar tahun 1362 Saka/1440 Masehi, bersama dua orang putera dan seorang kemenakannya serta sejumlah kerabat, dengan tujuan menghadap Raja Majapahit yang menikahi adik istrinya, yaitu Dewi Darawati. Sebelum ke Jawa, rombongan Syekh Ibrahim Asmoroqondi singgah dulu ke Palembang untuk memperkenalkan agama Islam kepada Adipati Palembang, Arya Damar.Setelah berhasil mengislamkan Adipati
Palembang, Arya Damar (yang namanya diganti menjadi Ario Abdullah) dan keluarganya.Syekh Ibrahim Asmoro qondi beserta putera dan kemenakannya melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa. Rombongan mendarat di sebelah timur bandar Tuban, yang disebut Gesik (sekarang Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban).
Pendaratan Syekh Ibrahim Asmoro qondi di Gesik dewasa itu dapat dipahami sebagai suatu sikap kehati-hatian seorang penyebar dakwah Islam. Mengingat Bandar Tuban saat itu adalah bandar pelabuhan utama Majapahit.Itu sebabnya Syekh Ibrahim Asmoro qondi beserta rombongan tinggal agak jauh di sebelah timur pelabuhan Tuban, yaitu di Gesik untuk berdakwah menyebarkan kebenaran Islam kepada penduduk sekitar. Sebuah kitab tulisan tangan yang dikenal di kalangan pesantren dengan namaUsui Nem Bis, yaitu sejilid kitab berisi enam kitab dengan enam bismillahirrahmanirrahim, ditulis atas nama Syekh Ibrahim Asmoro qondi. Itu berarti, sambil berdakwah menyiarkan agama Islam, Syekh Ibrahim Asmoro qondi juga menyusun sebuah kitab.
Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, Syekh Ibrahim Asmoro qondi dikisahkan tidak lama berdakwah di Gesik. Sebelum tujuannya ke ibu kota Majapahit terwujud, Syekh Ibrahim Asmoro qondi di kabarkan meninggal dunia. Beliau di makamkan di Gesik tak jauh dari pantai. Karena di anggap penyebar Islam pertama di Gesik dan juga ayah dari tokoh Sunan Ampel, makam Syekh Ibrahim Asmoro qondi dikeramatkan masyarakat dan dikenal dengan sebutan makam Sunan Gagesik atau Sunan Gesik. Dikisahkan bahwa sepeninggal Syekh Ibrahim Asmoro qondi, putera-puteranya Ali Murtadho dan Ali Rahmatullah beserta kemenakannya, Raden Burereh (Abu Hurairah) beserta beberapa kerabat asal Champa lainnya, melanjutkan perjalanan ke ibu kota Majapahit untuk menemui bibi mereka Dewi Darawati yang menikah dengan Raja Majapahit. Perjalanan ke ibu kota Majapahit dilakukan dengan mengikuti jalan darat dari Pelabuhan Tuban ke Kota raja Majapahit........
  Ini  history sejarah Syekh Ibrahim Asmoro Qondi, tentang kebenaran nya Allah hu alam, saya hanya menyimak saja......lalu saya melanjut kan perjalanan lagi mau menuju Desa Blimbing Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur, dengan tujuan bekerja sebagai foto Amatier/dengan sebutan tukang foto keliling pada waktu camera manual masih belum tenggelam, tapi kini camera manual sudah terkubur di telan masa, kini mengikuti zaman beralih ke camera digital........kenangan demi kenangan ku coretkan pengalaman ku ini di sini,.. kini saya tidak seperti dulu lagi tiap hari hidupku di jalanan, tidurpun ber atap kan langit dan bantal dan kasur di batu/lantai seada nya, Wabilahhi walaitofiq walhidayah wasalam mualaikum warah matullahhi wabarakatuhu............#Colection Son Rove......Putra kelana...........



Petualangan ku Misteri di Makam Kemangi Cepiring Jawa Tengah.....

       Kulangkahkan kaki selangkah demi selangkah sampai di kota Weleri Jawa Tengah tepat nya di tempat wisata sekucing, telisik punya telisik banyak masyarakat sekitar menceritakan tentang kejadian aneh di wilayah pantura, selain di Selamaran Pekalongan hingga batang, yang terkenal yaitu Dewi Lanjar sang pengusa pantai laut utara, tapi di sini saya posisi dalam perjalanan berpetualang di wilayah Weleri, dan cerita ini tidak kalah angker nya dengan cerita misterinya Dewi lanjar, yaitu di Kemangi, maka ku ayunkan kaki ku menyusuri pantai utara dari sekucing Weleri hingga sampai tiba di Desa Jungsemi kecamatan Kangkung,tidak sengaja saya berhenti di pemakaman umum dan termenung sendirian di makam umum ini, dalam hati saya bergumam mana makam yang angker itu.....? dan dalam ketermenungan  tiba2 saya di kejutkan kedatangan salah seorang Bapak, dan menegor ku, Mas dari mana......? jawaban saya dari semarang Pak........?  Bapak itu bertanya lagi kenapa sampai di sini Mas....? lalu kujawab lagi...saya adalah se orang pengelana Pak, dan dengar tentang misteri2 makam kemangi, lalu Bapak itu mengernyitkan alisnya, dan memandangi dengan tajam, lalu kami berkenalan, berjabatan tangan Bapak itu menyebutkan nama nya Saturi/ dengan sebutan Kyai Saturi, juru kunci makam Kemangi, lalu aku memperkenalkan nama ku Gustaaf Adolf Akiaar, Bapak Saturi terkejut dengan nama ku yang kelihatan asing, dan tidak umum di jawa lalu aku ceritakan tentang geografi saya, bahwa saya kakek dari Ambon sedang Nenek saya dari keturunan cina, dari Kudus jawa tengah, lalu Bapak saya nikah sama orang jawa solo.....Pak....?.................Baru Bapak tersebut memahami nya, kemudian saya bergantian Bertanya Pak di mana letak makam Kemangi....? Bapak juru kunci tersebut menjawab dengan tenang nya, ini Mas di sini lah Makam yang Mas cari lalu aku begumam dalam hati apa yang angker.....? lalu Bapak tersebut menceritakan kejadian2 nyata yaitu salah se orang sopir Daeler Mobil mengantarkan pesanan Mobil, di Desa Kemangi aneh nya sopir tersebut tidak kembali2, lalu menanyakan pada sang kepala desa, dan ditunjukan rumah kepala desa dan kisah anak kepala desa, tapi dengan heran dan terkejut kepala desa tersebut, mencerita kan bahwa anak nya telah meninggal sudah beberapa tahun yang lalu, lalu dengan bantuan masyarakat serta juru kunci, memohon pada sang penguasa makam kemangi dengan adat kejawen nya, serta tak ketinggalan dengan mantera2/doa2 secara islami , dan beberapa lama sopir tersebut kembali ke alam nyata / alam manusia, lalu sopir tersebut menceritakan bahwa di alam goib hampir sama dengan alam nyata bahkan lebih mewah dan enak di alam goib, kata nya di sana semua serba mewah............lalu sang juru kunci menceritakan lagi lebih terperinci lagi tentang sejarah2 Kemangi pada masa kerajaan di tanah jawa.....................
- KISAH NYATA MISTERIUS: Di Makam Kemangi Cepiring Kendal, Jawa Tengah - Jika kita telisik lebih awal, asal nama Kendal merupakan berasal dari nama sebuah pohon,  yakni pohon kendal. Di masa Kerajaan Demak atau pada 1500 - 1546 Masehi.
Pohon Kemangi Di  Makam Kemangi

Tepatnya disaat Sultan Trenggono berkuasa, Pohon kendal ini sudah sangat di kenal di kalangan masyarakat. Pohon ini memiliki ciri yaitu berdaun lebat dan rimbun. Atas keindahan dan kerindangan pohon kendal, membuat Sunan Katong terpana melihatnya.

Sejarah Kendalsari
Alkisah, atas keterpanaanya melihat pohon kendal nan "Sari" itu, beliau berkata sambil memandangi pohon tersebut bahwa nantinya daerah itu akan di sebut sebagai "Kendalsari".

Pohon raksasa itu juga di sebut Kendal Growong. Yang mana jika di perhatikan pohon tersebut memiliki batang yang berlubang. Atau jika orang jawa mengatakan Growong (Berlubang).

Selain sejarah pohon kendal tersebut, juga ada peninggalan lain di kendal yang kisah sejarahnya tak kalah mengesankan, Petilasan ini di kenal oleh Masyarakat sebagai Petilasan Makam Kemangi yang mana berada di wilayah Weleri, Kendal.
Saat di temui, Kyai Saturi, yang merupakan Juru Kunci Makam Kemangi menuturkan, dahulu sebelum menjadi kuburan, di sana memiliki nilai sejarah yang kental dengan Serangan Sultan Agung ke Batavia. Sultan Agung merupakan Raja Mataram Islam.

Kyai Saturi bercerita bahwa dulunya tempat tersebut merupakan lokasi pertemuan antar tokoh-tokoh, yang mana para tokoh ini rapat untuk mengatur strategi yang mana di tujukan untuk penyerangan ke Batavia.

Kemudian Kyai Saturi melanjutkan bahwa pada waktu itu sesaat setelah Sultan Agung membuat keputusan untuk berperang melawan Belanda di Batavia, Sultan memimpin dan memanggil semua para pembesar seperti tumenggung, adipati dan tokoh-tokoh dalam kerajaan Mataram.
Hasil rapat dan masukan dari para adipati menghasilkan keputusan Final yaitu Perang melawan Belanda harus di laksanakan.

“Pimpinan perang pun diputuskan, dan  juga panglima perangnya, yaitu Tumenggung Bahurekso, Adipati Kendal, dan Gubernur Pesisir Laut Jawa,” cerita kyai saturi.

Pada waktu itu, Bahurekso mengambil keputusan bahwa segala macam persiapan pertempuran melawan Belanda tidak di laksanakan di pendopo kabupaten. melainkan di suatu tempat yang mana tempat tersebut dekat dengan Pantai.

Peserta rapatpun bersepakat untuk merahasiakan tempat pertemuan tersebut. Yang mana akhirnya hasil kesepakatan tersebut memilih lokasi di tengah hutan, di bawah pohon nan rimbun, yang mana saat ini di kenal oleh masyarakat sebagai Pohon Kemangi.

Pohon tersebut saat ini berada di pemakaman atau di tengah tengah persawahan. Hingga pada akhirnya pemakaman ini terkenal akan kekeramatanya yang terletak di wilayah Desa Jungsemi Kecamatan Kangkung

Kisah Nyata Mistis
Berbagai macam hal mistis dan ganjil banyak di temukan di sini, yaitu di petilasan kemuning. Hal ini yang membuat pasangan suami istri dari desa lain penasaran.

Pasangan suami istri ini akan membuktikanya sendiri keangkeran Makam Kemangi. Mereka belum tahu lokasi makam tersebut namun mereka tetap bersemangat untuk mencari lokasi tersebut.

Ia sesekali bertanya kepada warga sekitar sontak saja orang-orang yang mereka tanyai kaget bukan kepalang. Mereka menjawab dengan kata-kata saja dan tidak berani menunjukan jari atas arah lokasi tersebut.

Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan atas arahan warga. 100 Meter sebelum jalan mengarah makam tersebut mereka bertemu dengan 3 anak kecil. Anak kecil tersebut menanyakan apakah mereka akan kekuburan kemangi ? sontak saja mereka menjawab Iya.

Pada akhirnya 3 anak tersebut mengantar pasangan suami istri ini ke kuburan kemangi, setelah smpai di makam mereka menoleh kebelakang, berharap akan mengucapkan terima kasih, namun sangat mengagetkan dan membuat mereka merinding ke tiga anak tadi menghilang tak berbekas.

Banyak keganjilan di sana. Sering sekali anak kecil hilang di sana yang kemudian di temukan berada di tengah sawah di sekitar kuburan kemangi. Anak-anak tadi bercerita bahwa mereka berada di sebuah kota yang bangunanya indah banget.

Dan bahkan ada juga kejadian yang sangat mencengangkan, yang mana ada kiriman semen yang katanya akan di pakai untuk membangun Masjid. Semen tersebut 1 tronton penuh.

Namun setelah di terima dan di lihat pengirimanya, ternyata penerimanya tadi adalah orang yang pernah hilang di sekitar kuburan kemangi dan sudah dianggap meninggal dunia,.......inilah Realita cerita Bapak Saturi sebagai Kyai/juru kunci Makam yang angker ini yaitu Kemangi........anda suka dengan mistik dan misteri2 silah kan mencoba di sini dan buktikan, kira nya cukup sekian, Wabilahhi walaitofiq walhidayah Wasalam Mualaikum Warahmatullahhi wabarakatuhu..........#sonrove colection......putrakelana.......

         foto2 ini makam kemangi dan Pak Juru kunci...

Friday, August 18, 2017

Perjalanan ku Berpetualang di Wilayah Banten Jawa Barat Indonesia.......

PERJALANAN BERPETUALANG      Perkenalkan nama Saya Gustaaf Adolf Akiaar, saya adalah dari keluarga nasrani, lalu masuk agama islam, karena tertarik dengan ilmu kebatinan nya, hingga saya menjadi se orang petualang, hingga saya merantau ke daerah Banten, konon ceritera ilmu kebatinan nya amat tinggi, ini kisah ku di tanah Banten.......
        Pertama saya menginjakkan kaki ke wilayah Banten saya menginap di Rumah Abuya Dimyati di Pandeglang, saya berjumpa sama putra nya yang bernama Murtadho, lalu saya di pesan apa bila ketemu Abah Mas jangan terkejut apa bila beliau marah/membentak/sebalik nya........lalu aku menginap di salah satu pondok yang beratapkan ilalang, lalu pagi nya saya ikut sholat berjamaah tepat di belakang Beliau, selesai nya sholat saya menyalami nya dan beliau langsung membetak dengan lantang......mau apa kamu.....? sepontan saya memohon dan meminta amalan.....beliau dengan keras dan lantang......sana baca yasin 2x, dan di usir nya saya untuk pergi, dengan langkah gontai saya terpaksa harus pergi pagi2 buta dengan melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan saya menuju ke Gunung Karang Konon menyimpan banyak misteri ..........
   Gunung Karang – Pandeglang adalah raksasa tertidur dari Banten, yang menyimpan banyak rahasia yang belum terkuak oleh manusia, banyaknya misteri, mitos dan legenda ditempat ini menjadikan gunung karang beraroma mistis yang sangat kuat, sejarah gunung karang tidak lepas dari cerita peradaban masa lalu hingga sejarah runtuhnya kerajaan hindu-Budha. Gunung Karang adalah gunung tertinggi di daerah Banten, ketinggiannya mencapai 1778 ml dan gunung ini gunung merapi aktif yang memiliki potensi besar bisa meletus......................

Perjalananku ke puncak Gunung Karang karena tertarik dengan misterinya dan banyaknya bukti peninggalan sejarah yang ditemukan di gunung karang masih tertata rapi, dan beberapa sebagian yang kutemukan tersimpan rapi dimuseum kepurbakalaan Banten. Seperti beberapa situs sejarah yang berada di gunung karang, diantaranya : batu Menhir, Situs Pahoman Pasir Petey, Sumur Tujuh. Petilasan Sultan Banten ke 1. Makam Syekh Rako. Makam Syekh Karan.

Sebelum mendaki kepuncak gunung karang, biasanya para peziarah atau pendaki diharuskan berdoa terlebih dahulu di petilasan Sultan Maulana Hasanudin, memohon kepada Allah SWT keselamatan dan kekuatan untuk mendaki. Gunung Karang Banten, menjadi salah satu tujuan paforit wisata religi dan wisata pendakian gunung, selain tujuan mendaki, yang paling terkenal adalah sumur tujuh gunung karang yang keberadaannya di puncak gunung, para pendaki harus menempuh perjalanan 2.5 - 4 – 5 jam pendakian menuju sumur tujuh, tergantung pisik dan kondisi para pendaki. Letak ketinggian diatas sumur tujuh 1778 ml, jadi para pendaki harus menyiapkan pisik yang fit dan semangat yang tinggi.

      Sumur Tujuh gunung karang adalah tempat yang paling sering dijadikan tujuan mendaki, para pendaki yang datang dari pulau jawa dan luar pulau jawa sengaja mendaki untuk tujuan ke sumur tujuh,kita kupas sejarah sumur tujuh berkaitan erat dengan Sulton Maulana Hasanudin pendiri kerajaan Banten yang bercorak islami, putera dari Sulton Syarief Hidayatulloh Raja Cirebon pertama

Sejarah yang melegenda di masyarakat tentang keberadaan sumur tujuh yang dibuat oleh Sulton Maulana Hasanudin, adalah ketika Sulton Maulana Hasanudin ditantang bertarung adu kesaktian oleh Raja Pucuk Umun Raja Banten Girang, pertarungan yang sangat sengit terjadi di puncak gunung karang yang sekarang adanya sumur tujuh. Karena kehausan setelah bertarung Sulton Maulana Hasanudin bermunajat kepada Allah Swt untuk memohon air minum, atas izin Allah maka ditancapkanlah tongkatnya ke tanah, dengan seketika keluarlah air menyembur dari dalam tanah. Lubang bekas tongkat yang ditancapkan inilah yang sekarang di sebut keramat Sumur Tujuh Gunung Karang........................
Sumur Tujuh Gunung Karang banyak sekali dikunjungi oleh para peziarah, mereka ke sumur tujuh dengan tujuan untuk mencari air sumur keramat, jika airnya kebetulan banyak biasanya para peziarah mandi dan membawa pulang kerumah, tujuannya memohon keberkahan kepada Allah SWT dengan sareat air sumur tujuh keramat yang dibuat oleh Sulton Maulana Hasanudin.
Banyak sekali cerita mistis yang sering dialami oleh para pendaki yang bertujuan ziarah ke sumur tujuh gunung karang, fenomena yang sering terjadi berkaitan dengan hal-hal yang berbau mistis.
Bahkan salah satu dari para peziarah ketika memasukan tangannya ke lumpur sumur tujuh, ditemukan emas yang masih utuh berbentuk batangan, dan beberapa kejadian seperti menemukan benda-benda pusaka atau batu akik yang mengandung kekuatan gaib. Sumur Tujuh Gunung Karang adalah tempat yang sangat sakral dan keramat karena tidak boleh orang sembarang mengucap sesuatu yang kurang baik, berdoalah ditempat ini hanya kepada Allah Swt.

Namun sangat disayangkan, dengan kondisi yang sekarang sumur tujuh sudah sangat memprihatinkan, saking banyaknya pengunjung menjadikan sumur tujuh sudah tidak terlihat tujuh lagi, keadaannya sudah berubah dari aslinya karena terjamah ribuan orang.
 
Tidak jauh dari Sumur Tujuh, terdapat Sumur Nangka, Sumur Nangka adalah sebuah gua yang didalamnya ada penampungan air dari batu, konon katanya Sumur Nangka ini tempat pelarian atau bersembunyi Pucuk Umun yang kalah bertarung, jadi untuk para peziarah tidak diperbolehkan mandi disumur ini atau membawa pulang airnya.................
  Dan di dekat sumur tujuh ada makam salah seorang musyafir yang telah wafat dan di makam kan nya.........dan di sumur tujuh udara nya amat dingin sekali serta angin yang kencang sekali...............
  Lalu saya turun dan menginap di salah satu penduduk di bawah lereng Gunung karang......lalu ke esokan hari nya saya melanjutkan perjalanan ke Batu Al Qur’an/ Cikaduen Banten..............
     Mari kita menguak lagi sejarah Batu Al Qur’an di Cikaduen Banten dengan perjalanan penuh misteri ............................................                                                            PANDEGLANG, Bila anak bangsa sudah mulai melupakan sejarahnya, maka hilanglah kebesaran generasi bangsanya. Manusia adalah makhluk pelupa. Kemarin seharusnya menjadi sejarah hari ini. Hari ini menjadi sejarah esok hari. Dan esok menjadi sejarah untuk lusa yang lebih baik. Begitu seterusnya tiada berkesudahan. Tapi ternyata tidak berlaku untuk manusia-manusia pelupa. Fakta-fakta sejarah yang menunjukkan betapa signifikannya peran-peran Ulama dan Santri. Para Ulama dan Santri sudah memperhatikan sejarah mereka di esok hari. Tinggal kita sekarang menyikapi nya, apakah akan melanjutkannya atau tetap nyaman menjadi manusia-manusia amnesia. Peristiwa sejarah yang terjadi di tengah bangsa Indonesia sampai hari ini, hakikatnya merupakan kesinambungan masa lalu yang mana fondasinya sudah dipancangkan kuat oleh para Ulama dan Santri. Dan tidak akan cukup kalau kita menuliskannya dalam lembaran artikel sederhana ini. Setidaknya, gambaran sederhana di atas bisa memetik kesadaran kolektif kita tentang sejarah.
Cerita rakyat yang berhubungan dengan Islamisasi di Banten salah satunya adalah cerita Syekh Mansyuruddin. Menurut ceritanya Sang syekh adalah salah seorang yang menyebarkan agama Islam di derah Banten Selatan. Dengan peninggalannya berupa Batu Qur’an yang sekarang banyak berdatangan wisatawan untuk berzirah atau untuk mandi di sekitar patilasan, karena disana ada kolam pemandian yang ditengah kolam tersebut terdapat batu yang bertuliskan Al-Qur’an.
Syekh Maulana Mansyuruddin dikenal dengan nama Sultan Haji, beliau adalah putra Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa (raja Banten ke 6). Sekitar tahun 1651 M, Sultan Agung Abdul Fatah berhenti dari kesutanan Banten, dan pemerintahan diserahkan kepada putranya yaitu Sultan Maulana Mansyurudin dan beliau diangkat menjadi Sultan ke 7 Banten, kira-kira selama 2 tahun menjabat menjadi Sultan Banten kemudian berangkat ke Bagdad Iraq untuk mendirikan Negara Banten di tanah Iraq, sehingga kesultanan untuk sementara diserahkan kepada putranya Pangeran Adipati Ishaq atau Sultan Abdul Fadhli. Pada saat berangkat ke Bagdad Iraq, Sultan Maulana Mansyuruddin diberi wasiat oleh Ayahnya, ”Apabila engkau mau berangkat mendirikan Negara di Bagdad janganlah menggunakan/ memakai seragam kerajaan nanti engkau akan mendapat malu, dan kalau mau berangkat ke Bagdad untuk tidak mampir ke mana-mana harus langsung ke Bagdad, terkecuali engkau mampir ke Mekkah dan sesudah itu langsung kembali ke Banten. Setibanya di Bagdad, ternyata Sultan Maulana Mansyuruddin tidak sanggup untuk mendirikan Negara Banten di Bagdad sehingga beliau mendapat malu. Didalam perjalanan pulang kembali ke tanah Banten, Sultan Maulana Mansyuruddin lupa pada wasiat Ayahnya, sehingga beliau mampir di pulau Menjeli di kawasan wilayah China, dan menetap kurang lebih 2 tahun di sana, lalu beliau menikah dengan Ratu Jin dan mempunyai putra satu.
Selama Sultan Maulana Mansyuruddin berada di pulau Menjeli China, Sultan Adipati Ishaq di Banten terbujuk oleh Belanda sehingga diangkat menjadi Sultan resmi Banten, tetapi Sultan Agung Abdul Fatah tidak menyetujuinya dikarenakan Sultan Maulana Mansyuruddin masih hidup dan harus menunggu kepulangannya dari Negeri Bagdad, karena adanya perbedaan pendapat tersebut sehingga terjadi kekacauan di Kesultanan Banten. Pada suatu ketika ada seseorang yang baru turun dari kapal mengaku-ngaku sebagai Sultan Maulana Mansyurudin dengan membawa oleh-oleh dari Mekkah. Akhirnya orang-orang di Kesultanan Banten pun percaya bahwa Sultan Maulana Mansyurudin telah pulang termasuk Sultan Adipati Ishaq. Orang yang mengaku sebagai Sultan Maulana Mansyuruddin ternyata adalah raja pendeta keturunan dari Raja Jin yang menguasai Pulau Menjeli China. Selama menjabat sebagai Sultan palsu dan membawa kekacauan di Banten, akhirnya rakyat Banten membenci Sultan dan keluarganya termasuk ayahanda Sultan yaitu Sultan Agung Abdul Fatah. Untuk menghentikan kekacauan di seluruh rakyat Banten Sultan Agung Abdul Fatah dibantu oleh seorang tokoh atau Auliya Alloh yang bernama Pangeran Bu`ang (Tubagus Bu`ang), beliau adalah keturunan dari Sultan Maulana Yusuf (Sultan Banten ke 2) dari Keraton Pekalangan Gede Banten. Sehingga kekacauan dapat diredakan dan rakyat pun membantu Sultan Agung Abdul Fatah dan Pangeran Bu`ang sehingga terjadi pertempuran antara Sultan Maulana Mansyuruddin palsu dengan Sultan Abdul Fatah dan Pangeran Bu`ang yang dibantu oleh rakyat Banten, tetapi dalam pertempuran itu Sultan Agung Abdul Fatah dan Pangeran Bu`ang kalah sehingga dibuang ke daerah Tirtayasa, dari kejadian itu maka rakyat Banten memberi gelar kepada Sultan Agung Abdul Fatah dengan sebutan Sultan Agung Tirtayasa.
Peristiwa adanya pertempuran dan dibuangnya Sultan Agung Abdul Fatah ke Tirtayasa akhirnya sampai ke telinga Sultan Maulana Mansyuruddin di pulau Menjeli China, sehingga beliau teringat akan wasiat ayahandanya lalu beliau pun memutuskan untuk pulang, sebelum pulang ke tanah Banten beliau pergi ke Mekkah untuk memohon ampunan kepada Alloh SWT di Baitullah karena telah melanggar wasiat ayahnya, setelah sekian lama memohon ampunan, akhirnya semua perasaan bersalah dan semua permohonannya dikabulkan oleh Allah SWT sampai beliau mendapatkan gelar kewalian dan mempunyai gelar Syekh di Baitulloh. Setelah itu beliau berdoa meminta petunjuk kepada Alloh untuk dapat pulang ke Banten akhirnya beliau mendapatkan petunjuk dan dengan izin Alloh SWT beliau menyelam di sumur zam-zam kemudian muncul suatu mata air yang terdapat batu besar ditengahnya lalu oleh beliau batu tersebut ditulis dengan menggunakan telunjuknya yang tepatnya di daerah Cibulakan Cimanuk Pandeglang Banten di sehingga oleh masyarakat sekitar dikeramatkan dan dikenal dengan nama Keramat Batu Qur`an. Setibanya di Kasultanan Banten dan membereskan semua kekacauan di sana, dan memohon ampunan kepada ayahanda Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa. Sehingga akhirnya Sultan Maulana Mansyuruddin kembali memimpin Kesultanan Banten, selain menjadi seorang Sultan beliau pun mensyiarkan islam di daerah Banten dan sekitarnya.
Dalam perjalanan menyiarkan Islam beliau sampai ke daerah Cikoromoy lalu menikah dengan Nyai Sarinten (Nyi Mas Ratu Sarinten) dalam pernikahannya tersebut beliau mempunyai putra yang bernama Muhammad Sholih yang memiliki julukan Kyai Abu Sholih. Setelah sekian lama tinggal di daerah Cikoromoy terjadi suatu peristiwa dimana Nyi Mas Ratu Sarinten meninggal terbentur batu kali pada saat mandi, beliau terpeleset menginjak rambutnya sendiri, konon Nyi Mas Ratu Sarinten mempunyai rambut yang panjangnya melebihi tinggi tubuhnya, akibat peristiwa tersebut maka Syekh Maulana Mansyuru melarang semua keturunannya yaitu para wanita untuk mempunyai rambut yang panjangnya seperti Nyi mas Ratu Sarinten. Nyi Mas Ratu Sarinten kemudian dimakamkan di Pasarean Cikarayu Cimanuk. Sepeninggal Nyi Mas Ratu Sarinten lalu Syekh Maulana Mansyur pindah ke daerah Cikaduen Pandeglang dengan membawa Khodam Ki Jemah lalu beliau menikah kembali dengan Nyai Mas Ratu Jamilah yang berasal dari Caringin Labuan. Pada suatu hari Syekh Maulana Mansyur menyebarkan syariah agama islam di daerah selatan ke pesisir laut, di dalam perjalanannya di tengah hutan Pakuwon Mantiung Sultan Maulana Mansyuruddin beristirahat di bawah pohon waru sambil bersandar bersama khodamnya Ki Jemah, tiba-tiba pohon tersebut menjongkok seperti seorang manusia yang menghormati, maka sampai saat ini pohon waru itu tidak ada yang lurus.
Ketika Syekh sedang beristirahat di bawah pohon waru beliau mendengar suara harimau yang berada di pinggir laut. Ketika Syekh menghampiri ternyata kaki harimau tersebut terjepit kima, setelah itu harimau melihat Syekh Maulana Mansyur yang berada di depannya, melihat ada manusia di depannya harimau tersebut pasrah bahwa ajalnya telah dekat, dalam perasaan putus asa harimau itu mengaum kepada Syekh Maulana Mansyur maka atas izin Alloh SWT tiba-tiba Syekh Maulana Mansyur dapat mengerti bahasa binatang, Karena beliau adalah seorang manusia pilihan Alloh dan seorang Auliya dan Waliyulloh. Maka atas izin Alloh pulalah, dan melalui karomahnya beliau kima yang menjepit kaki harimau dapat dilepaskan, setelah itu harimau tersebut di bai`at oleh beliau, lalu beliau pun berbicara “Saya sudah menolong kamu ! saya minta kamu dan anak buah kamu berjanji untuk tidak mengganggu anak, cucu, dan semua keturunan saya”. Kemudian harimau itu menyanggupi dan akhirnya diberikan kalung surat Yasin di lehernya dan diberi nama Si Pincang atau Raden Langlang Buana atau Ki Buyud Kalam. Ternyata harimau itu adalah seorang Raja/Ratu siluman harimau dari semua Pakuwon yang 6. Pakuwon yang lainnya adalah :
1. Ujung Kulon yang dipimpin oleh Ki Maha Dewa
2. Gunung Inten yang dipimpin oleh Ki Bima Laksana
3. Pakuwon Lumajang yang dipimpin oleh Raden Singa Baruang
4. Gunung Pangajaran yang dipimpin oleh Ki Bolegbag Jaya
5. Manjau yang dipimpin oleh Raden Putri
6. Mantiung yang dipimpin oleh Raden langlang Buana atau Ki Buyud Kalam atau si pincang.
Setelah sekian lama menyiarkan islam ke berbagai daerah di banten dan sekitarnya, lalu Syekh Maulana Manyuruddin dan khadamnya Ki Jemah pulang ke Cikaduen. Akhirnya Syekh Maulana Mansyuruddin meninggal dunia pada tahun 1672M dan di makamkan di Cikaduen Pandeglang Banten. Hingga kini makam beliau sering diziarahi oleh masyarakat dan dikeramatkan.
Keterangan :
  • Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa dimakamkan di kampung Astana Desa Pakadekan Kecamatan Tirtayasa Kawadanaan Pontang Serang Banten.
  • Cibulakan terdapat di muara sungai Kupahandap Kecamatan Cimanuk Kabupaten Pandeglang Banten .......
Lalu saya melanjutkan per jalanan ke Ujung Kulon tapi Sebelum saya ke Ujung Kulon saya menuju ke salah se orang Paranormal yaitu Mbah Gelung di Desa Tegal papak di Labuhan.....
  • Makam Cicaringin terletak di daerah Cikareo Cimanuk Pandeglang Banten
  • Ujung Kulon Desa Cigorondong kecamatan Sumur Kawadanaan Cibaliung kebupaten Pandeglang Banten
  • Gunung Anten terletak di kecamatan Cimarga Kawadanaan Leuwi Damar Rangkas Bitung
  • Pakuan Lumajang terletak di Lampung
  • Gunung Pangajaran terletak di Desa Carita Kawadanaan Labuan Pandeglang, disini tempat latihan silat macan.
  • Majau terletak didesa Majau kecamatan Saketi Kawadanaan Menes Pandeglang Banten
  • Mantiung terletak di desa sumur batu kecamatan Cikeusik  Kewadanaan Cibaliung Pandeglang.
  • Ki Jemah dimakamkan di kampong Koncang desa Kadu Gadung kecamatan Cimanuk Pandegang Banten...........................
Perjalananku di Banten penuh mengesan kan dan membawa saya untuk mempelajari agama islam, dan se usai nya ini saya Mondok Pesantren di Babat Jawa Timur di Kampung Sawo dengan Mbah Kyai Munir mempelajari tentang al bidayah tentang tata cara pasholatan, dan membaca Al Qur’an yang Benar..................
     Dan tak lama saya belum sampai khatam Al Qur’an saya melanjutkan perjalanan dan bekerja sebagai mana mesti nya......
  Lalu aku menuju di Desa Blimbing Kecamatan Paciran bekerja sebagai tukang foto, karena belum ada panggilan kerja terpaksa kerja sebagai foto amatier.....hasil nya cukup lumayan .........
Lalu saya tidak lama saya berkenalan dengan se orang gadis berasal dari Dukuh Jambu di Desa Kebon Romo Kecamatan Ngrampal Kabupaten Sragen Jawa Tengah.........
   Selesai sudah perjalanan berpetualangan saya ini hingga kini saya mempunyai keturunan salah se orang putra dan ber domisili di Desa Sumur Pule Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang Jawa Tengah.............Tapi terkadang hoby ini tetap masih ingin melakukan perjalanan ke mana mana...............
 Ini menceritakan perjalanan hidup saya dari berpetualang hingga kini saya sudah tetap berdomisili, lain dengan kehidupan ku dulu atap rumahku adalah langit hidup di jalanan ..............      Di bawah ini foto barusan di ambil pada bulan february 2017,..mengulas perjalanan pada tahun 1986,... foto saya bersama kawan2 pendaki dari Jakarta, dan foto di makam Abuya Dim Yati di Desa Cadas Sari Pandegelang Banten Jawa Barat........Wabilahhi walaitofiq walhidayah Wassalam mualaikum warahmatullahhi wabarakatuhu,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,






 



PERJALANAN CERITA MISTERI

  PETUALANGAN KU DI TUBAN JAWA TIMUR DI TEMPAT MAKAM  TUNDUNG MUSUH DAN MAKAM NYA ASMORO KONDI      Perjalanan berpetualang ke tempat...